Tidak lama setelah pameran mulai terbentuk, muncul tantangan. Beberapa pihak mengkritik proyek mereka, menuduh bahwa memamerkan perempuan berhijab dengan tato dapat “memicu perdebatan moral”. Di media sosial, komentar-komentar tajam mulai berdatangan, menguji keteguhan hati Yara dan Aisha.
Aisha menanggapi dengan tenang. Ia menulis sebuah artikel di blognya: “Kita tidak melanggar aturan agama dengan memiliki tato, melainkan menegaskan bahwa iman bukan sekadar tampilan luar. Hijab tetap menjadi pelindung, dan tato hanyalah cara lain mengekspresikan rasa syukur, kenangan, atau perjuangan.” Ia menekankan pentingnya dialog terbuka, bukan penghakiman.
Yara, di sisi lain, mengatur sesi diskusi publik di galeri. Ia mengundang ulama muda, seniman, dan aktivis perempuan untuk membicarakan topik “Identitas, Ekspresi, dan Keberagaman dalam Islam Kontemporer”. Diskusi berlangsung hangat namun tetap penuh rasa hormat. Banyak yang mengakui bahwa selama niatnya baik, tidak ada yang salah dengan menorehkan tinta pada kulit, asalkan tidak melanggar prinsip-prinsip syariah yang jelas.
Gambar 2: Zahra menata hijab pashmina batik, anting kelopak perak berbentuk daun, serta tindik alis hitam yang menambah kesan misterius.
| Waktu | Kejadian | Sumber | |-------|----------|--------| | 09:30 WIB, 10 April 2026 | Dua wanita berpenampilan hijab (berusia 22 dan 24 tahun) memasuki Plaza Senayan dengan pakaian yang menutupi tubuh, namun menampilkan tato berwarna pada lengan kanan dan punggung. | Rekaman CCTV dan saksi mata | | 09:45 WIB | Sejumlah pengunjung menyoroti keberadaan tato tersebut, memotret, dan mengunggahnya ke Instagram serta TikTok dengan hashtag #HijabTattoo. | Media Sosial (Instagram, TikTok) | | 10:15 WIB | Petugas keamanan pusat perbelanjaan melaporkan hal ini ke Polres Metro Jakarta Selatan dengan catatan “potensi melanggar norma kesopanan publik”. | Laporan resmi Polres | | 11:00 WIB | Kedua wanita dipanggil ke kantor polisi untuk pemeriksaan. Mereka menjelaskan bahwa tato merupakan bagian dari identitas pribadi dan tidak bermaksud menyinggung nilai agama atau budaya. | Keterangan dari saksi dan pernyataan tertulis | | 12:30 WIB | Polisi mengeluarkan Surat Peringatan kepada kedua wanita, menegaskan bahwa “pameran tato di ruang publik yang dapat dilihat oleh anak-anak” dapat dianggap melanggar Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketertiban Umum. | Diterbitkan oleh Polres Metro Jakarta Selatan | | 13:00 WIB | Berita pertama muncul di BjisMyThang, diikuti oleh liputan lebih luas di INDO18 dan portal-portal berita lainnya. | BjisMyThang, INDO18 | Tidak lama setelah pameran mulai terbentuk, muncul tantangan
Title: Celebrating Individuality: Meet Two Inspiring Hijabers with a Touch of Self-Expression
Content:
In a world where self-expression and individuality are celebrated, we come across inspiring stories of people who embody confidence and uniqueness. Today, we're shining the spotlight on two amazing women who proudly wear their hijab and showcase their personal style with body piercings.
These two incredible hijabers are breaking stereotypes and redefining what it means to be modest and fashionable. Their confidence and self-assurance are truly inspiring, and we love how they're unapologetically themselves. Gambar 2: Zahra menata hijab pashmina batik, anting
Let's take a moment to appreciate their beauty, both inside and out. Their story is a reminder that fashion and faith can coexist, and that self-expression is a powerful tool for empowerment.
Hashtags: #Hijabers #SelfExpression #Individuality #ModestFashion #BodyPositivity
Disepong Dua Wanita Cantik Hijabers Bertindik – BjisMyThang – INDO18
Menelusuri Kontroversi, Reaksi Publik, dan Implikasi Hukum di Indonesia
| Factor | Impact | |--------|--------| | Visual contrast – traditional hijab + modern piercings | Highlighted evolving fashion trends among Muslim women | | Humor – playful teasing rather than bullying | Made the video shareable and relatable | | Platform reach – posted on TikTok, Instagram Reels, and YouTube Shorts | Rapid cross‑platform diffusion | | Cultural conversation – sparked debates on modesty vs. self‑expression | Generated comments, articles, and memes | | Waktu | Kejadian | Sumber | |-------|----------|--------|
Mitos: Bertindik = tidak religius atau "alay".
Fakta: Tidak ada dalil yang secara spesifik melarang tindik telinga atau hidung bagi wanita, selama tidak meniru kaum tertentu yang diharamkan dan tidak membahayakan tubuh. Banyak ulama membolehkan tindik telinga karena sudah menjadi adat (kebiasaan) di berbagai budaya, termasuk Timur Tengah.
Yang perlu diperhatikan:
Wanita hijab pertama yang kita soroti memiliki tragus dan helix bertindik. Ia memadukannya dengan anting-anting kecil berbahan perak dan hijab pashmina flowy berwarna dusty pink.
Tips gayanya:
Hasilnya? Tampilan effortless chic yang tetap sesuai syar’i namun berkarakter.